Selasa, 01 September 2020

it may

it may take a long time, to understand what we really need, what we really want to be, who we really need in an urgent time. 

it may take some effort to found out where is the best place to be. we don't know until it happened to us.

do you ever feel useless, unappreciated, demotivated, all at the same time? is it normal to have this feeling at the same time? where or who to find the answers, me?

it may depend on how we think. do you ever feel tired of being positive? but, you know exactly when being negative didn't make you feel better.

Rabu, 12 Agustus 2020

it will be better untitled

Halo, ingin menuangkan cerita di blog ini lagi. Sebenernya banyak banget draft yang belum selesai karena kehabisan ide. Tapi di tulisan kali ini, lebih kepengen untuk curhat, menuangkan isi hati yang penuh pertanyaan. Tahun 2020 ini emang tahun yang paling beda, paling cepet terasanya, dan sekaligus paling hampa menurut gue. Di awal tahun, tanpa berpikir panjang (padahal rasanya sudah dipikirkan matang-matang), gue memutuskan untuk resign dari tempat kerja. Padahal gue baru kerja disana selama 4 bulan. Ada logika berpikir gue yang salah sebelum memutuskan untuk resign dari tempat kerja pertama gue. Jujur, penyesalannya datang lama setelah gue resign. Gue akhir-akhir ini baru merasakan penyesalan kenapa gue tidak mempersiapkan diri untuk resign lebih matang lagi, at least gue sudah dapat kepastian apa yang akan gue kejar setelah resign. Waktu itu gue cuma berpikir gue ngga suka sama lingkungan kerja gue yang menurut gue nggak sportif dan mungkin gue terlalu idealis. Disitu gue lupa bahkan nggak kepikiran untuk ngobrol atau sharing sama atasan-atasan atau senior-senior di tempat kerja. Gue lebih memilih untuk ngedumel dalam hati, atau berbagi ke orang yang sifatnya sama kayak gue sehingga ngga menghasilkan pemikiran baru. Waktu masih kerja di tempat lama, gue udah mulai cari-cari pekerjaan dan ikut beberapa interview di beberapa perusahaan. Hasilnya nihil, gue sama sekali belum berhasil, bahkan sampai detik ini gue masih belum berhasil lolos interview. Dulu pas ditanya kenapa resign sama orang-orang kantor, gue beralibi mau cari pengalaman baru dan mempersiapkan lanjutan studi. Gue yakin saat itu gue berada di fase ingin sekolah lagi, but turns out sekarang gue belum yakin, lebih tepatnya belum menemukan alasan yang mendukung untuk melanjutkan studi master. Gue masih kepengen kerja di perusahaan orang, punya banyak teman dan kenalan, membangun career path, nabung untuk masa depan dan keluarga. Gue merasa saat ini gue lebih siap dan matang untuk bekerja, gue sudah bisa mengendalikan idealisme gue tentang dunia kerja. 

Dulu gue bekerja sebagai sales yang produknya adalah aplikasi belajar yang lagi naik daun. Gue senang sama pekerjaan tersebut, dan gue sadar itu adalah skill and gift yang gue miliki. Entah apa yang gue pikirkan dulu, mungkin gue jenuh atau ya, belom siap menghadapi dunia kerja sebelumnya. Dan faktor external lainnya yang gue akui gue salah dalam menilainya. Saat ini gue sudah mempersiapkan diri agar hal-hal yang dulu menjadi kesalahan gue tidak terjadi lagi di pekerjaan yang berikutnya. Nggak lama setelah gue resign, datanglah pandemi Covid-19 ini, yang membuat semakin struggle untuk mencari pekerjaan. Dan mulai tumbuh rasa nyesel kenapa harus resign padahal beberapa minggu setelah gue memutuskan resign itu WFH. Tapi, it is enough to being regret! I moved on, I started my small business. Iya, secara spontan gue mulai bisnis kecil-kecilan. Gue hobi masak, dan ya gue jual makanan masakan gue. Gue masak dan menjual pasta panggang yang resepnya ada di kepala gue. Di bulan pertama sampai bulan kedua, alhamdulillah setiap minggunya selalu ada pesanan. Market gue masih teman-teman dan tetangga. Dan mulai di bulan ketiga penjualannya mulai menurun, karena hampir semua teman gue dan teman adek gue udah beli makanan gue. Gue masih kesulitan untuk memperluas market gue, sehingga mulai dari bulan-bulan berikutnya ngga setiap buka PO ada yang pesan, pernah dalam sebulan cuma ada satu pesanan ukuran kecil, dan pernah istirahat jualan juga. Keuangannya pun mulai berantakan karena gue juga berusaha memenuhi kebutuhan gue dengan uang bisnis gue :). Tabungan juga mulai menipis bahkan habis, dan sadly gue sekarang kembali dapet uang jajan dari orang tua. 

Gue selalu ingin terlihat tegar dan happy didepan semua orang, tapi gue paling nggak bisa bohong sama diri sendiri. Gue bisa tiba-tiba nangis kalau kepikiran masalah pekerjaan ini. Gue juga bisa tiba-tiba pecah didepan ortu kalau udah ngga kuat memendam perasaan sedih. Salah satu cara yang gue lakukan untuk bisa lepas selepas-lepasnya adalah dengan berdoa, berkomunikasi sama Yang Maha Kuasa, solat, meningkatkan kualitas ibadah. Meskipun jawabannya bisa datang kapan pun, dan dengan cara apapun. Gue juga belom tahu bagaimana Allah akan memberikan gue rejeki dari pekerjaan yang seperti apa, gue tetep berusaha meluruskan niat gue bekerja itu untuk apa, gue selalu minta dimudahkan untuk bisa meluruskan niat. Bagaimanapun juga gue sadar gue adalah manusia yang harus berusaha dan menyerahkannya ke Allah. Gue berusaha memperbaiki semua hubungan gue dengan Allah dan juga dengan sesama manusia. 

Semoga apa yang disemogakan dalam do'a, akan menjadi kenyataan dengan ridha-Nya.

Minggu, 24 Mei 2020

what kind of mistake(s) you did,

everyone did mistake(s)
no one born to be perfect
everyone did mistake(s)
and feel regret(s)
everyone did mistake(s)
then, they find the solution(s)
everyone did mistake(s)
they won't do it again.

Jumat, 27 September 2019

Welcome to the Real Life

Alhamdulillah, tanggal 23 Agustus yang lalu gue berhasil melalui tahap sidang komprehensif, dan unofficially jadi sarjana. Setelah sebelumnya tanggal 29 Juli, dengan segala drama seada-adanya drama melalui tahap seminar. Jujur, tahap seminar adalah tahap yang paling b.e.r.a.t menurut gue dalam proses menjadi sarjana ini. Sepuluh hari isinya nangis setiap hari, karena pas sidang komisi sama pembimbing judul gue diganti, dan ada satu kata yang menurut gue 'memberatkan' dan gue gangerti sama kata itu. Intinya, kata tersebut seharusnya menjadi bintang utama dalam skripsi gue, tapi gue ngga banyak membahas itu. Tapi, hamdallah itu semua bisa terlewati dengan mudah di hari-h. Rasanya lebih ke arah mati rasa si, udah cape degdegan, cape nangis, cuma pengen hari itu berlalu secepat mungkin. Setelah seminar hasil, gue merasa agak santai. Padahal ada tahap yang kata orang-orang lebih berat, yaitu sidang komprehensif. Jarak dari seminar hasil ke diang komprehensif emang agak lama, gue selalu ikutin apa yang disaranin dosbing gue. Bener aja, selama proses menuju sidang komprehensif gue kelewat santay, santay banget malah. H-2 sidang gue baru belajar, baru buka materi kuliah selama 4 tahun. Alhamdulillah-nya sih, gue nggak merasa degdegan atau gelisah, atau takut kaya pas seminar hasil. Gue merasa siap aja mengahadapi hari itu. Denger dari orang-orang, dosen penguji gue baik. Dan bener aja, pas sidang emang suasananya santai banget, ngga tegang sama sekali. Gue masih bisa haha hehe kalo gabisa jawab pertanyaan penguji. Dan yang lebih penting lagi, alhamdulillahnya gue LULUS hehe. 

Jujur, santainya kebablasan, sampe seminggu setelah sidang komprehensif gue belom revisi. Padahal revisinya ngga terlalu banyak, dan temen sebimbingan gue udah selesai revisian seminggu setelah itu, dan ngga lama udah dapet SKL. Hari ke-8 setelah sidang, gue baru mulai revisian. Ada beberapa kali perbaikan lagi dari dosen pembimbing dan dosen uji petik, dan tepat tanggal 10 September, Surat Keterangan Lulus a.k.a SKL gue keluar :). Then, what next? 

Selama proses ngurus SKL, gue sambil nyiapin keikutsertaan gue di sebuah simposium internasional. Gue ngirim karya ilmiah yang berasal dari skripsi gue, dan juga mempresentasikannya dalam bentuk poster. Ini pengalaman pertama sih buat gue. Awalnya pengen mundur, karena kaya apa si ini gue ngga ngerti. But since dosbing gue baik banget, membantu dan memfasilitasi gue dan temen-temen gue buat ikut kegiatan ini, why not? Selama satu minggu full kita konsinyasi, ke lab setiap hari, buat nyelesein full paper dan bikin posternya. Seru banget si, berasa kerja di start up selama seminggu itu. Setelah seminggu konsinyasi, di minggu berikutnya kita full dari Selasa-Jumat ikut simposium dan training (yang merupakan rangkaian dari kegiatan simposium juga). 

Pertama kali banget ngerasain suasana simposium internasional di hari-hari tersebut. Tahun lalu ikut di hari pertama dan nggak sampe selesai, karena ya itu tadi, ngerasa acara apa si ini hehe. Beda banget sama tahun ini, kita udah mulai ngerti istilah-istilah di simposium tersebut, karena topik skripsi kita berhubungan sama tema simposium tsb. Seneng sih, ngga nyesel 'maksain' diri buat ikut kegiatan ini. Empat hari ke Bogor tapi bukan ke Dramaga itu, rasanya happy banget hehe. Tapi, setelah 4 hari itu, mulai kepikiran, anjir setelah ini gue ngapain ya, bener-bener ngga ada alasan lagi buat ke kampus tiap hari hehe (walaupun masih ada tanggung jawab ngasprak Senin pagi).

Berasa banget bingungnya, kosongnya, hampanya, mulai ngga ada rutinitas. Mulai coba-coba apply kerjaan, alhamdulillah belum ada yang panggil buat interview. Mungkin masih dikasih kesempatan buat berusaha dulu lagi. Stress? Mungkin iya saat ini udah mulai stress. Karena gue tipe orang yang tiap hari ada kegiatan, ada kesibukan, terus tiba-tiba hampir seminggu ini ngga ada kegiatan. Dulu mikir pengen banget istirahat, mungkin ya sekarang dikasih waktu sama Allah buat istirahat sejenak. Mungkin sekarang sebenernya Allah lagi minta buat gue lebih mendekatkan diri pada-Nya. Lebih peka lagi sama sekitar, bisa nonton berita dan buka Twitter lebih lama (itu termasuk anugrah juga kan ya). Kemaren banget gue nangis, entah karena stress atau ada hal yang ngga gue suka terjadi. Campur aduk banget rasanya, pgn punya rutinitas lagi di luar rumah. Kepengen nabung buat jalan-jalan. Kepengen explore tempat-tempat seru. 

Ternyata begini ya, fase transisi kehidupan, dari mahasiswa menuju menjadi manusia yang sesungguhnya. Yang lagi berusaha untuk berdiri di kaki sendiri. Yang lagi berusaha mencari jalan hidupnya sendiri. Yang lagi mencari rejekinya. Yang lagi berusaha mencari rido-Nya. dan yang lagi berusaha mencari jodohnya (hehe). Semoga gue tetep bisa menikmati hari-hari yang mungkin nggak akan terulang lagi di hari berikutnya. Semoga dijauhkan dari kata 'nyerah' dan kepengen bunuh diri. Semoga tetep bisa bahagia dan membahagiakan orang lain.

Salam,
Rizky Hafizhah Putri, kali ini dengan gelar S.Hut (Sarjana Kehutanan)

Minggu, 01 September 2019

admiring to...

Since I don't how it starts,
I always admiring someone (a boy), that I know it wouldn't be good if I told him so
I enjoyed days on how I admired him a lot, until my feeling stops and was just usual
I always found a way how to met him, saw him, and simply being happy, and also blessed
And my typical man that I admired, sometimes in a similar style and value
Oh, how I love a man who had value in his life
What should I do when I am so deeply admiring someone,
that I didn't really know, but I want to.
How can it start? How will? and when?
I know that we are going to separate apart soon.
But, can I wish we'll meet someday?
as a person that truly loving each other
dear you, younger man.
someone that I stalked his instagram to, in my free time.
this would be like a teenager who fall in love
but I think I want to put in your name, in every pray I do.

Passion? Just listen to your heart!

Sejak SMP, gue udah suka banget sama kegiatan tulis-menulis, terutama di Blog. Gue juga punya role-model blogger-blogger Indonesia, sebut sa...